Sehubungan dengan banyaknya permintaan di halaman saya sebelumnya mengenai teknik moderasi FGD, untuk sharing tentang cara pembuatan FGD moderator guideline, maka berikut saya tuliskan beberapa tips, semoga berguna buat rekan-rekan.

Mengapa moderator membutuhkan FGD guideline? Bahkan bagi seorang moderator FGD yang paling berpengalaman sekalipun,tidak bisa hanya mengandalkan ingatan. Ruang FGD layaknya sebuah arena dimana situasi bisa berubah dengan cepat sehingga moderator harus mengantisipasi semua kemungkinan. Dalam waktu yang mendesak, pekerjaan ini jauh lebih mudah apabila point-poin mendasar telah dituliskan sehingga konsentrasi pada dinamika pembahasan kelompok dapat terus prima. Selain itu, moderator guideline dapat membantu pencatatan sehingga penggalian informasi menjadi lebih tajam, tanpa kehilangan big picture dari isu yang dibahas. Berikut beberapa tips dalam menyusun moderator FGD untuk Anda.

  1. Pilahkan informasi mana yang nice to have dan need to have. Banyak penyelenggara FGD terjebak pada keinginan untuk “tahu semua”. Tentu saja dalam waktu 1,5 – 2 jam, tidak mungkin kita mengeksplorasi semua hal. Oleh karena itu, berbekal framework penelitian yang kita pilih, tentukan mana informasi yang paling penting dan mana yang baik didapat jika ada kelebihan waktu. Menentukan prioritas menjadi kunci. Apabila terlalu banyak materi yang akan didalami, maka tingkat kedalaman masing-masing akan berkurang. Biasanya kemudian yang didapat hanya bersifat surface information atau normative.
  2. Trigering question dan probing question. Bayangkan Anda sedang menunggu di sebuah lobby dan kemudian ada seorang yang menarik di sebelah Anda. Jika Anda ingin kenal lebih dekat, tentu Anda tidak akan mulai dengan bertanya, “mbak, rumahnya di mana?”. Pasti kita akan mulai dengan pertanyaan yang sangat general lalu pelan-pelan mengarah pada pertanyaan yang lebih mendalam. Pertanyaan utama untuk mengarahkan kita sebut triggering questions, dan pertanyaan berikutnya kita sebut probing questions. Triggering question sifatnya lebih stabil, dapat ditanyakan kapan saja sebagai penanda cluster mana pembahasan dalam suatu waktu, sedangkan probing questions sebaiknya dibuat lebih terbuka sehingga memungkinkan penyesuaian dengan situasi dan dinamika kelompok. Untuk lebih jelasnya bentuk kedua pertanyaan ini, silahkan lihat contoh moderator guideline berikut.
  3. Buat jarak antara probing question untuk mencatat. Pada waktu diskusi terjadi, poin-poin penting harus dicatat agar tidak terlupa. Beberapa poin mungkin ingin Anda perdalam, sehingga pencatatan merupakan hal yang mutlak. Masalahnya ketika moderator mencatat, eye contact akan hilang sehingga kemampuan untuk mengendalikan dinamika berkurang. Oleh karena itu, memberi jarak pada moderator guideline memiliki dua keuntungan. Pertama, pencatatan lebih mudah karena telah ada kamar-kamar untuk mencatat, tidak scattered. Kedua, ketika mencatat, moderator dapat sekaligus melihat pertanyaan berikutnya.
  4. Urutkan pertanyaan mulai dari yang kurang sensitif hingga ke paling sensitif. Pertanyaan sensitive seringkali membuat suasana menjadi tidak menyenangkan. Bagi sebagian orang malah menunjukkan reaksi yang agresif dan bermusuhan. Oleh karenanya, simpan pertanyaan dengan tipe seperti ini di belakang, sehingga apabila tidak berjalan dengan baik, Anda telah mendapat sebagian besar informasi yang dibutuhkan.

Demikian beberapa tips dari saya untuk rekan-rekan yang akan menyusun FGD. Mari diskusi.. :-)