Mas Totok, kakak laki-laki saya, berseru sambil berdiri di atas batu sungai ” Woooiii…!! cepet ndang ditarik serokane…!”. Ingatan ini mengalir begitu saja ketika saya membayangkan saat indah menyerok cethul, ikan-ikan kecil yang biasanya hidup berkelompok di pinggir parit, ketika saya kecil dulu.

Sewaktu kecil, saya dikenal sebagai anak yang sangat ceria. Waktu saya habiskan untuk bermain bersama kawan-kawan dengan cara yang unik dan menyenangkan. Memanjat pohon belimbing di kebun belakang rumah waktu gerimis sambil mengamati burung-burung yang bulunya basah terkena air hujan adalah kebiasaan favorit saya.  Kadang-kadang saya menangkap gangsir, seekor jangkrik besar, mengalunginya dengan kereta-keretaan dari kotak korek api dengan kancing baju sebagai rodanya. Hal ini dapat memberi saya kesenangan yang luar biasa. Saat itu saya sering berkhayal seperti seorang raksasa yang menonton opera liliput di negeri awan. Tidak ada yang istimewa, namun maknanya sulit sekali saya temui saat ini. Kebahagiaan yang sederhana, sungguh sederhana.

Beberapa contoh di atas sangat kontras apabila dibandingkan dengan keseharian saya saat ini. Kesibukan yang tercipta di kantor setiap hari menyita hampir seluruh waktu saya. Kemacetan berangkat dan sepulang kerja menjadi makanan tetap yang harus ditelan sukarela ataupun tidak. Jika dahulu saya bebas bermain selepas waktu sekolah, kini kebebasan itu digantikan dengan jadwal yang ketat dan reminder outlook yang mengingatkan pada meeting-meeting khusus. Ironis memang, seiring dengan berjalannya  waktu, semakin kompleks cara kita untuk mendapatkan kebahagiaan.

Diatas ketukan tuts keyboard ini saya merenungkan perubahan besar apa yang terjadi antara masa kecil dan kekinian saya. satu hal yang paling berbeda adalah kemampuan menikmati proses. Pikiran rasional kita menjadi semakin canggih memberikan konsekuensi-konsekuensi kompleks yang akan terjadi pada diri kita jika mengalami kegagalan. Apa yang akan terjadi jika pencapaian sales tahun ini tidak sesuai target, komplain seperti apa yang akan diteriakkan pelanggan jika pelayanan tidak memuaskan, dan berjuta-juta konsekuensi negatif lain yang dimunculkan tak henti-henti seperti ban berjalan di pabrik-pabrik. Ketakutan akan konsekuensi negatif ini seringkali membuat saya terpaku pada pencapaian hasil dan lupa menikmati prosesnya.

Tentu saja hal ini membatasi definisi kita akan kesuksesan. Seperti dikatakan Winston churchil “Success is the ability to go from one failure to another with no loss of enthusiasm.” Antusiasme dalam menikmati proses menjadi syarat utama untuk meraih kebahagiaan saat ini.

Oleh karena itu, mulai saat ini, mari kita nikmati kemacetan. Saya biasa memberi arti kemacetan sebagai 3 jam duduk di kursi yang empuk, di ruangan ber AC, sambil menikmati musik slow oldies dari delta fm, dibarengi dengan pijat refleksi, kaki melawan kopling.

Wahyu T. Setyobudi