Seketika membaca judul diatas, beberapa diantara kita serta-merta membayangkan keju yang meleleh dari dalam telur dadar panas, dipadu dengan jamur dan irisan paprika. Yak selamat, Anda salah. Itu omelette, bukan obsolete. Yang dimaksud dengan obsolete dalam tulisan ini merujuk pada Merriam-Webster Dictionary yaitu “no longer used because something newer exists, or replaced by something newer”. Singkatnya, ketinggalan jaman.

Saya ingin mengajukan satu buah pikir untuk kita renungkan bersama yaitu, bahwa salah satu keahlian mental yang wajib dimiliki pemasar muda di era baru ini adalah kesiapan untuk obsolete, menjadi ketinggalan jaman. Loh, bukankah para pemasar muda adalah tunas-tunas baru yang sangat up date dengan perkembangan jaman dan teknologi? Benar demikian, namun secepat apapun kita mengupdate diri kita dengan pengetahuan, informasi, dan teknologi baru, tetap perkembangan dunia akan meninggalkan kita.

Ambillah beberapa contoh, situs shifthappens.com mengajukan beberapa fakta mengejutkan, diantaranya bahwa dalam setahun ada lebih dari sejuta judul buku baru terbit di seluruh dunia. Hal ini berhubungan dengan fakta bahwa jumlah informasi baru di bidang teknik berlipat ganda setiap tahun sehingga sangat mungkin ilmu yang kita pelajari di tahun-tahun awal kuliah, sudah ketinggalan jaman pada saat kita lulus. Meledaknya penggunaan internet juga memicu munculnya ledakan informasi baru. Ambillah youtube, yang dalam dua bulan saja, jumlah upload video barunya mengalahkan jumlah video yang diproduksi oleh tiga stasiun berita terbesar US dijumlahkan bersama sejak 1948. Luar biasa bukan? Wikipedia yg diluncurkan 2001, dalam sekarang memiliki koleksi 13 juta artikel dalam 200 bahasa, semakin menunjukkan betapa kecil kita dalam jagad pengetahuan baru dunia.

Dengan demikian jelas tergambar bahwa pengetahuan dan informasi melesat meninggalkan kita dengan cepat. Oleh karena itu, kesadaran bahwa kita akan selalu tertinggal membuat sel-sel belajar di otak kita selalu dalam keadaan alert, hidup dan bergerak. Sel-sel ini yang akan menumbuhkan gairah akan pengetahuan baru, merangsang jiwa keingintahuan yang merupakan bahan bakar utama dalam penguasaan kompetensi pemasaran masa kini. Hal ini yang oleh almarhum Steve Jobs dipesankan pada generasi muda secara sangat emosional melalui ungkapan ”stay hungry, stay foolish”.  Selalu lapar akan ilmu baru, pengetahuan baru, dan cara baru.

Baru-baru ini Harvard Business Review dalam blognya merilis artikel yang merujuk pada pentingnya CQ (curiosity quotients) sebagai salah satu ketrampilan utama para manager untuk menantang jaman yang disebut sebagai the age of complexity, era kompleksitas. Artikel ini seperti ingin mendobrak minset bahwa IQ dan EQ adalah faktor penentu utama. Nyatanya, efek dari IQ dan EQ akan berlipat hanya apabila didampingi dengan keingintahuan. Para pemasar muda perlu lebih sering bergaul dengan pemasar lain melalui gathering-gathering asosiasi, bertukar pikiran melalui chatting dengan practitioner di luar negeri dan tanpa henti menggali best practices dalam industri melalui media digital yang tak berbatas. Ingatlah bahwa batas pengetahuan adalah sepanjang semangat kita mencarinya. Semoga para pemasar muda Indonesia Berjaya, salam semangat pembaharu.!

*              *              *

Dimuat di majalah Youth Marketers Edisi 18/II/September 2014